twitter
googleplus
facebook
View Animations
  • Peta sumbawa kuno oleh Melvill van Carnbe e P Pieter Baron 1856

  • Istana Kesultanan sumbawa Kuno

  • Sultan Djalaluddin dengan para pengawalnya

  • Istri Sultan Sumbawa Bersamawa Keluarga

  • Pejabat Kesultanan sumbawa

  • Demung Camat Kepala Kampung

  • Kondisi Perkampungan Sumbawa Kuno

  • Rakyat Pulau Sumbawa

  • YUBILIUM 1946 Bertahtanya YM.Sultan Muhammad Kaharuddin lll

  • Sultan Sumbawa Bima, dan sukarno



Tampilkan postingan dengan label Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bima. Tampilkan semua postingan

Tinjauan dan Analisis Pertumbuhan Ekonomi

Tinjauan dan Analisis Pertumbuhan Ekonomi Secara Sektoral Selama 2000-2005 a. Sektor Primer Yang dikelompokkan dalam sektor primer adalah sektor pertanian dan penggalian/pertambangan. Sektor pertanian selama 2000-2005 tumbuh rata-rata sebesar 3,6%. Peningkatan pada sektor ini disebabkan karena peningkatan pada hampir semua sub sektornya, kecuali sub sektor kehutanan masih mengalami pertumbuhan negatif sebesar -20,12% pada tahun 2004 dan sub sektor tanaman pangan tumbuh negatif sebesar 1,15% pada tahun 2005. Masih maraknya kasus iIlegal logging di Bima merupakan salah satu penghambat pertumbuhan sub sektor kehutanan. Hal ini disebabkan oleh jumlah kebutuhan kayu yang sangat tinggi belum dapat diimbangi oleh sisi penawarannya

Kebanyakan lokasi penebangan liar ini terjadi di wilayah sekitar Gunung Tambora, dan beberapa kawasan di wilayah Kabupaten Bima.Sementara turunnya pertumbuhan sub sektor tanaman pangan lebih banyak disebabkan faktor cuaca dan kekeringan disamping terjadinya fluktuasi harga input produksi. Dari sektor pertanian, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sub sektor perikanan 4,4% diikuti oleh sub sektor peternakan sebesar 4,2%, dan perkebunan 4,0%. Pertumbuhan terendah terjadi pada tanaman bahan makanan sebesar 3,4%. Kontribusi sub sektor terhadap PDRB berturut-turut: tanaman pangan ( 33,23%), perikanan (8,96%) dan peternakan (6,36%). Selain itu saat ini di Bima sedang digalakkan penanaman jarak pagar sebagai sumber bahan bakar alternatif. Sementara itu, sub sektor tanaman bahan makanan juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,4% antara lain didorong oleh meningkatnya supply palawija, terutama dari tanaman jagung, bawang merah dan kedelai serta hortikultura. Gangguan supply diakibatkan oleh kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah Bima. Kondisi tersebut diperburuk dengan sistim pengairan sawah sebagian besar masyarakat Bima yang masih tergantung pada hujan. Hanya sedikit yang telah memanfaatkan sistem irigasi. Di samping itu, dari sisi permintaan, tingkat permintaan atas produksi hasil tanaman palawija juga terus meningkat. Kebutuhan akan produksi jagung saat ini sangat tinggi, karena adanya permintaan dari dalam dan luar negeri (Philipina dan Malaysia), namun demikian belum seluruh permintaan tersebut dapat dipenuhi karena produksi jagung di Kabupaten Bima belum terlalu banyak. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada tahun 2006, di Bima diadakan program peningkatan produksi jagung, yang akan didukung oleh tiga agro sistem yaitu potensi lahan kering, lahan sawah yang dimanfaatkan pada musim kemarau dan daerah irigasi. Selain jagung, kedelai juga memiliki potensi yang cukup besar di Kabupaten Bima. Demikian pula dengan kacang tanah yang pengembangannya hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Bima. Sementara itu, permintaan terhadap hasil ternak (terutama kerbau dan sapi) Bima yang cukup tinggi baik dari dalam negeri (jakarta dan jawa barat) maupun luar negeri (Venezuela, Malaysia dan Timor Leste). Potensi permintaan yang masih tinggi tersebut merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan yang terjadi di sub sektor peternakan. Kebijakan pembangunan yang diambil terkait sektor primer adalah : ”Pertumbuhan PDRB pada sektor pertanian (perikanan, tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan kehutanan) dapat dilakukan melalui peningkatan produksi, produktivitas, stabilisasi harga input maupun output. Dengan demikian, Indeks Nilai Tukar Petani terus meningkat yang menunjukkan meningkatnya kesejahteraan petani. Untuk meningkatkan produksi maupun produktivitas dapat dilakukan melalui dinas tekhnis yang terkait, sementara stabilisasi harga menjadi kebijakan pemerintah secara umum yang tidak dapat ditangani secara sektoral. Oleh karena itu investasi sarana publik untuk bendungan, saluran irigasi, teknologi pengolahan lahan, benih dan berbagai input produksi lainnya harus mendapat perhatian yang lebih, terutama dalam hal anggarannya. Diversifikasi komoditi harus dilakukan sesuai dengan karakteristik lahan dan wilayah untuk mengatasi dan menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan. b. Sektor Sekunder Industri Pertumbuhan sektor industri pengolahan selama 2000-2005 adalah sebesar 3,9%, yang berarti lebih tinggi dari sektor pertanian. Meskipun tumbuh lebih tinggi, sektor ini hanya menyumbang 2,85 % terhadap total PDRB pada tahun 2005. Oleh karenanya, masih diperlukan kerja keras untuk membangun industri di Kabupaten Bima guna menggerakkan ekonomi ke depan. Industri yang berkembang di Kabupaten Bima adalah industri yang masih berskala kecil dan menengah, yang meliputi Bidang Industri Kerajinan, Agro dan Hasil Hutan dan Bidang Industri ILMEA (elektronika, alat angkut dan tekstil). Secara umum skala usaha industri masih berskala kecil dan menengah. Umumnya didominasi industri rumah tangga. Perkembangan industri yang menonjol adalah industri yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal seperti makanan dan kerajinan dan elektronika, tekstil. Adapun industri yang dijual keluar daerah belum banyak dilakukan. Hal inilah yang menyebabkan tersendatnya pertumbuhan kontribusi sektor industri. Minimnya perkembangan industri kerajinan seperti furniture karena kalah bersaing dengan produk dari daerah lain dalam hal teknologi, desain dan kualitas lainnya. Kebijakan pembangunan yang diambil terkait sektor Sekunder adalah : ” Pertumbuhan pada sektor sekunder diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dengan mengembangkan industri yang berbasis resources dan menggunakan local content, seperti industri IKAHH dan industri lain yang mendukung sektor jasa. Yang perlu didorong di bidang industri adalah peningkatan skala usaha dengan kebijakan pengembangan industri, dimana saat ini umumnya berskala industri rumah tangga dan kecil. Peningkatan skala usaha harus dilakukan dengan memulai pemihakan pada pemasaran produk hasil industri yang disertai pembinaan di bidang produk dalam hal kualitas, kontinuitas dan kuantitas sesuai dengan permintaan pasar. Pengembangan usaha industri dapat dilakukan melalui beberapa program dalam APBD dan dukungan perbankan”. c. Sektor Tersier Sektor jasa yang sangat dominan adalah : sektor perdagangan, sektor perhubungan dan sektor pariwisata. Sektor perdagangan selama 2000-2005 tumbuh rata-rata sebsar 4,6% yang disumbang oleh sub sektor perdagangan besar dan eceran. Disamping itu, sektor yang mengalami pertumbuhan tinggi selama periode yang sama adalah sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 5,3%, sedangkan sub sektor komunikasi sebesar 7,6%. Tingginya pertumbuhan sub sektor komunikasi sangat berkaitan dengan semakin banyak penggunaan hand phone, counter, pendirian tower pemancar dari berbagai perusahaan telekomunikasi di Kabupaten Bima. Sektor keuangan, khususnya perbankan juga tumbuh dengan laju yang sangat tinggi, yang dipengaruhi oleh ekspansi kredit perbankan seiring membaiknya pertumbuhan sektor riil. Tumbuh dan berkembangnya usaha perdagangan formal telah dapat memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.Perdagangan kecil dan eceran terus mengalami pertumbuhan di desa maupun di kota kecamatan. Pusat pertumbuhan perdagangan masih didominasi oleh kecamatan Sape, Bolo dan Woha dimana telah memiliki bangunan pasar yang permanen dan memiliki aktivitas ekonomi yang tinggi. Sementara sektor hotel dan restoran terus mengalami pertumbuhan seiring membaiknya ekonomi secara keseluruhan dan sebagai dampak berkembangnya transportasi udara dan berkembangnya kota. Interaksi antara Kabupaten dan Kota Bima sangat dirasakan dengan hadirnya kota Bima yang menambah jumlah uang yang beredar. Restoran dan Hotel juga tumbuh sejalan dengan bergairahnya wisata domestik dari wilayah NTB maupun dari luar NTB. Kebijakan pembangunan yang diambil terkait sektor tersier adalah : ” Pertumbuhan sektor jasa diarahkan peningkatan pusat perdagangan, hotel dan restoran. Khusus perdagangan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru yang dapat menjual beberapa hasil pada sektor pertanian maupun industri bahkan diusahakan keluar daerah dan keluar negeri. Pengembangan sektor wisata juga harus dilakukan secara terpadu dengan sektor industri.Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa PDRB tidak menghitung kegiatan illegal, usaha informal dan komoditi yang dikonsumsi sendiri. Perdagangan yang perlu dikembangkan adalah yang bersifat lintas pulau dan wilayah. Penataan sarana dan prasarana, dan juga diperhatikan adalah sarana pasar desa, pasar khusus komoditi tertentu. Sementara yang berkaitan dengan pengembangan wisata, adalah wisata yang berbasis alam dan budaya, yang dipadukan dengan pengembangan industri kerajinan dan souvenir, pengembangan hotel dan restoran”.

Sejarah Bima


Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Bukti-bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu Nocu, Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun Padende Kecamatan Donggo menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia. Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa Melayu baru. Demikian pula halnya dengan penduduk yang mendiami Daerah Kabupaten Bima, mereka yang menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
Kerajaan Bima dahulu terpecah –pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi. Ada lima Ncuhi yang menguasai lima wilayah yaitu :
1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah
2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan
3. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat
4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara
5. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur.

Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara damai, saling hormat menghormati dan selalu mengadakan musyawarah mufakat bila ada sesuatu yang menyangkut Profil Kabupaten Bima tahun 2008 2 kepentingan bersama. Dari kelima Ncuhi tersebut, yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Menurut legenda yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Bima. Cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai 5 orang putra yaitu :
1. Darmawangsa
2. Sang Bima
3. Sang Arjuna
4. Sang Kula
5. Sang Dewa.

Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat disebuah pulau kecil disebelah utara Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda. Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan yakni Kerajaan Bima, dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat, dan saat itu pulalah Hadat Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali. Hadat ini berlaku terus menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan raja Ma Wa’a Bilmana. Setelah menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur, tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali ke Bima pada abad XIV/ XV.



Beberapa perubahan Pemerintahan yang semula berdasarkan Hadat ketika pemerintahan Raja Ma Wa’a Bilmana adalah :
- Istilah Tureli Nggampo diganti dengan istilah Raja Bicara.
- Tahta Kerajaan yang seharusnya diduduki oleh garis lurus keturunan raja sempat diduduki oleh yang bukan garis lurus keturunan raja.

Perubahan yang melanggar Hadat ini terjadi dengan diangkatnya adik kandung Raja Ma Wa’a Bilmana yaitu Manggampo Donggo yang menjabat Raja Bicara untuk menduduki tahta kerajaan. Pada saat pengukuhan Manggampo Donggo sebagai raja dilakukan dengan sumpah bahwa keturunannya tetap sebagai Raja sementara keturunan Raja Ma Wa’a Bilmana sebagai Raja Bicara. Kebijaksanaan ini dilakukan Raja Ma Wa’a Bilmana karena keadaan rakyat pada saat itu sangat memprihatinkan, kemiskinan merajalela, perampokan dimana-mana sehingga rakyat sangat menderita. Keadaan yang memprihatinkan ini hanya bisa di atasi oleh Raja Bicara. Akan tetapi karena berbagai kekacauan tersebut tidak mampu juga diatasi oleh Manggampo Donggo akhirnya tahta kerajaan kembali di ambil alih oleh Raja Ma Wa’a Bilmana. Kira-kira pada awal abad ke XVI Kerajaan Bima mendapat pengaruh Islam dengan raja pertamanya Sultan Abdul Kahir yang penobatannya tanggal 5 Juli tahun 1640 M. Pada masa ini susunan dan penyelenggaraan pemerintahan disesuaikan dengan tata pemerintahan Kerajaan Goa yang memberi pengaruh besar terhadap masuknya Agama Islam di Bima. Gelar Ncuhi diganti menjadi Galarang (Kepala Desa). Struktur Pemerintahan diganti berdasarkan Majelis Hadat yang terdiri atas unsur Hadat, unsur Sara dan Majelis Hukum yang mengemban tugas pelaksanaan hukum Islam. Dalam penyelenggaraan pemerintahan ini Sultan dibantu Oleh : 1. Majelis Tureli ( Dewan Menteri ) yang terdiri dari Tureli Bolo, Woha, Belo, Sakuru, Parado dan Tureli Donggo yang dipimpin oleh Tureli Nggampo/ Raja Bicara. 2. Majelis Hadat yang dikepalai oleh Kepala Hadat yang bergelar Bumi Lumah Rasa NaE dibantu oleh Bumi Lumah Bolo. Majelis Hadat ini beranggotakan 12 orang dan merupakan wakil rakyat yang menggantikan hak Ncuhi untuk mengangkat/ melantik atau memberhentikan Sultan. 3. Majelis Agama dikepalai oleh seorang Qadhi ( Imam Kerajaan ) yang beranggotakan 4 orang Khotib Pusat yang dibantu oleh 17 orang Lebe Na’E.

Seiring dengan perjalanan waktu, Kabupaten Bima juga mengalami perkembangan kearah yang lebih maju. Dengan adanya kewenangan otonomi yang luas dan bertanggungjawab yang diberikan oleh pemerintah pusat dalam bingkai otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang (UU) No. 22 tahun 1999 dan direvisi menjadi UU No. 33 tahun 2004, Kabuapten Bima telah memanfaatakan kewenangan itu dengan Profil Kabupaten Bima tahun 2008 3 terus menggali potensi-potensi daerah baik potensi sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pertumbuhan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Untuk memenuhi tuntutan dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat, Kabupaten Bima telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah mulai tingkat dusun, desa, kecamatan, dan bahkan dimekarkan menjadi Kota Bima pada tahun 2001. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk memenuhi semakin meningkatkan tuntutan untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat yang terus berkembang dari tahun ke tahun tetapi juga karena adanya daya dukung wilayah. Sejarah telah mencatat bahwa Kabuapten Bima sebelum otonomi daerah hanya terdiri dari 10 kecamatan, kemudian setelah otonomi daerah kecamatan sebagai pusat ibukota Kabupaten Bima dimekarkan menjadi Kota Bima, dan Kabupaten Bima memekarkan beberapa wilayah kecamatannya menjadi 14 kecamatan dan pada tahun 2006 dimekarkan lagi menjadi 18 kecamatan dengan pusat ibukota kabupaten Bima yang baru dipusatkan di Kecamatan Woha. (Bappeda Kab. Bima)


Hubungan Darah Bima-Bugis-Makassar

Arus modernisasi dan demokratisasi disegala bidang kehidupan telah mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir seluruh element masyarakat. Hubungan keakrabatan antar etnis dan bahkan hubungan darah sekalipun terpisahkan oleh tembok modernisasi dan demokrasi hari ini. Hubungan keakrabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625 – 1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar dikawasan Timur Indonesia yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke- VII. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke- VI. Sedangkan yang ke- VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa. Berikut urutan pernikahan dari silsilah kedua kerajaan ini :

1. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I) menikah dengan Daeng Sikontu, Putri Karaeng Kasuarang, yang merupakan adik iparnya Sultan Alauddin pada tahun 1625. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke-II)
2. Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke- II) menikah dengan Karaeng Bonto Je'ne. Adalah adik kandung Sultan Hasanuddin, Gowa pada tanggal 13 April 1646. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) pada tahun 1651.
3. Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) menikah dengan Daeng Ta Memang anaknya Raja Tallo pada tanggal 7 mei 1684. dari pernikahan tersebut melahirkan Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke-IV)
4. Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke IV) menikah dengan Fatimah Karaeng Tanatana yang merupakan putri Karaeng Bessei pada tanggal 8 Agustus 1693. dari pernikan tersebut melahirkan Sultan Hasanuddin (sultan Bima ke- V).
5. Sultan Hasanuddin (Sultan Bima ke- V) menikah dengan Karaeng Bissa Mpole anaknya Karaeng Parang Bone dengan Karaeng Bonto Mate'ne, pada tanggal 12 september 1704. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Alaudin Muhammad Syah pada tahun 1707 (Sultan Bima ke- VI)
6. Sultan Alaudin Muhammad Syah (Sultan Bima ke- VI) menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji putrinya sultan Gowa yaitu Sultan Sirajuddin pada tahun 1727. pernikahan ini melahirkan Kumala Bumi Pertiga dan Abdul Kadim yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- VII pada tahun 1747. ketika itu beliau baru berumur 13 tahun. Kumala Bumi Pertiga putrinya Sultan Alauddin Muhammad Syah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji ini kemudian menikah dengan Abdul Kudus Putra Sultan Gowa pada tahun 1747. dan dari pernikahan ini melahirkan Amas Madina Batara Gowa ke-II. Sementara Sultan Abdul Kadim yang lahir pada tahun 1729 dari pernikahan dari pernikahannya melahirkan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Sultan Abdul Hamid (La Hami) dilahirkan pada tahun 1762 kemudian diangkat menjadi sultan Bima tahun 1773.
7. Sultan Abdul Kadim (Sultan Bima ke- VII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- mohon Maaf) melahirkan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1762 dan Sultan Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Bima ke- VIII pada tahun 1773.
8. Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan Sultan Ismail pada tahun 1795. ketika sultan Abdul Hamid meninggal dunia pada tahun 1819, pada tahun ini juga Sultan Ismail diangkat menjadi Sultan Bima ke- IX
9. Sultan Ismail (Sultan Bima ke- IX) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan sultan Abdullah pada tahun 1827
10. Sultan Abdullah (Sultan Bima ke- X) menikah dengan Sitti Saleha Bumi Pertiga, putrinya Tureli Belo. Dari pernikahan ini abdul Aziz dan Sultan Ibrahim.
11. Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII pada tahun 1888 dan memimpin kesultanan hingga tahun 1917.
12. Sultan Salahuddin (Sultan Bima ke- XII) sebagai Sultan Bima terakhir dari pernikahannya melahirkan Abdul Kahir II (Ama Ka'u Kahi) yang biasa dipanggil dengan Putra Kahi dan St Maryam Rahman (Ina Ka'u Mari). Putra Kahir ini kemudian Menikah dengan Putri dari Keturunan Raja Banten (Saudari Kandung Bapak Ekky Syachruddin) dan dari pernikahannya melahirkan Bapak Fery Zulkarnaen



Adalah sangat Ironi memang jika pada hari ini generasi baru dari kedua Kesultanan Besar ini kemudian tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan pada zaman kerajaan, pertumbuhan dan perkembangan penduduk Gowa dan Bima merupakan Etnis yang tidak bisa dipisahkan dan bahkan masyarakat Gowa pada umumnya tidak bisa dipisahkan dengan Etnis Bima (Mbojo) sebagai salah satu Etnis terpenting dalam perkembangan kekuatan kerajaan Gowa. Dari catatan sejarah yang dapat dikumpulkan dan dianalisa, hubungan kekeluargaan antara kedua kesultanan tersebut berjalan sampai pada keturunan ke- IX dari masing-masing kesultanan, dan jika dihitung hal ini berjalan selama 194 tahun. Dari data yang berhasil dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa hubungan kesultanan Bima dan Gowa dengan pendekatan kekeluargaan (Darah) terjalin sampai pada tahun 1819. Analisa ini berawal dari pemikiran bahwa ada hubungan darah yang masih dekat antara Amas Madina Batara Gowa Ke- II anaknya Kumala Bumi Pertiga dengan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Karena keduanya masih merupakan saudara sepupu satu kali. Bahkan ada kemungkinan yang lebih lama lagi hubungan ini terjalin. Yaitu ketika Sultan Abdul Hamid meninggal pada tahun 1819 dan pada tahun itu juga langsung digantikan oleh putra mahkotanya yaitu Sultan Ismail sebagai sultan Bima ke- IX. Karena Sultan Ismail ini kalau dilihat keturunannya masih merupakan kemenakan langsungnya Amas Madina Batara Gowa Ke- II, jadi hubungan ini ternyata berjalan kurang lebih 194 tahun.

Pada beberapa catatan yang kami temukan, bahwa pernikahan Salah satu Keturunan Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) masih terjadi dengan keturunan Sultan Gowa. Sebab pada tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan Ibrahim), terjadi acara melamar oleh Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai. Sebab Manggarai dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad 17. Namun, pada catatan sejarah tersebut tidak tercatat secara jelas.(dari berbagai sumber)











Visi dan Misi

V i s i

Visi pembangunan Kabupaten Bima sebagai rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan pembangunan 5 (lima) tahun pertama 2006-2010 dan merupakan bagian dari visi RPJPD Kabupaten Bima Tahun 2006-2025 dirumuskan sebagai berikut:
Terwujudnya masyarakat dan daerah Kabupaten Bima yang maju, mandiri, dan bermartabat berdasarkan nilai Maja Labo Dahu yang religius


Secara spesifik, penjabaran dari visi ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Masyarakat dan daerah Kabupaten Bima adalah seluruh lapisan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Bima yang berada di wilayah Kabupaten Bima;

2. Kabupaten Bima yang maju ditandai dengan adanya kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan lahir dan batin. Aspek lahiriah, peningkatan pendapatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar. Aspek batiniah ditandai dengan meningkatnya penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan pembangunan daerah, semakin mantapnya keimanan dan ketaqwaan masyarakat, serta meningkatnya ketahahanan sosial budaya. Kedua kondisi tersebut diukur berdasarkan peningkatan dalam Pendapatan per Kapita; Angka Kemiskinan; Indeks Pemenuhan Kebutuhan Dasar dan Crime Index. Reaksi-reaksi sosial kemasyakatan perlu ditanggapi dan dijadikan sebagai salah satu perwujudan rasa keadilan masyarakat. Pengukurannya dapat digunakan indikator seperti: tingkat layanan penyediaan sarana, prasarana dan fasilitas publik, tingkat layanan penyediaan modal usaha produktif bagi masyarakat;

3. Kabupaten Bima yang mandiri ditandai dengan peningkatan kapasitas penalaran dan fisik manusia yang diukur berdasarkan perubahan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index), yang mencakup: Tingkat Pendidikan Penduduk; Tingkat Partisipasi Sekolah; Daya Serap Lembaga Pendidikan Formal; Usia Harapan Hidup Penduduk; Lama Hari Sakit Penduduk; Status Gizi Balita; Tingkat Kematian Bayi dan Ibu Hamil dan Nisbah Sarana Kesehatan per Penduduk. Berkaitan dengan derajat otonomi fiskal, yaitu kemampuan pemerintah daerah untuk membiayai kebutuhan otonominya berdasarkan penerimaan yang berasal dari sumber-sumber keuangan asli daerah, derajat otonomi fiskal diukur berdasarkan perubahan Indeks Kemampuan Rutin yaitu proporsi dan kontribusi penerimaan yang berasal dari sumber-sumber keuangan asli daerah terhadap penerimaan yang berasal dari pemerintah Propinsi dan Pusat;

4. Kabupaten Bima yang bermartabat ditandai dengan masyarakat yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkepribadian luhur dalam segala aspek kehidupan;

5. Nilai Maja Labo Dahu merupakan falsafah hidup masyarakat Bima dalam menerapkan norma-norma kemasyarakatan dan keagamaan dalam setiap tingkah laku dan perbuatan manusia, yaitu malu jika berbuat kesalahan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma yang ada dan takut kepada Allah sehingga selalu berusaha keras agar mampu menjadi manusia terbaik dalam hidup. Disamping itu, konsepsi Maja Labo Dahu mengandung 4 nilai luhur yaitu: Toho ra ndai sura dou labo dana, Toho ra ndai sura dou marimpa, Renta ba rera kapoda ba ade karawi ba weki , Nggahi rawi pahu;

6. Kabupaten Bima yang religius ditandai dengan adanya kemajuan dan peningkatan dalam kehidupan beragama, dimana Islam yang merupakan agama mayoritas di wilayah ini dijadikan landasan norma kemasyarakatan untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dengan tetap memperhatikan dan menjaga kerukunan hidup dengan umat beragama lain. Peningkatan aspek batiniah dilaksanakan dengan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan pembangunan daerah dan semakin mantapnya keimanan dan ketaqwaan masyarakat. Hal ini dapat diukur dengan berkurangnya tingkat kejahatan pada masyarakat dalam berbagai bentuk, terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat, dan terciptanya situasi kondusif untuk penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat

M i s i

Misi pembangunan sebagai penjabaran dari upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi pembangunan Kabupaten Bima dirumuskan sebagai berikut:

1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan secara proporsional sebagai pelaku dan penikmat pembangunan;

2. Restrukturisasi lembaga pemerintahan dalam meningkatkan peran dan fungsi strategis aparatur pemerintahan selaku agen pembangunan dan pelayanan prima dalam melaksanakan tugas di bidang pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance sehingga tercipta pelayanan publik yang sistematis, profesional, transparan, dan akuntabel;

3. Menerapkan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan daerah sesuai tata ruang wilayah Kabupaten dengan mengoptimalkan potensi strategis wilayah secara efisien, efektif, dan terintegrasi terhadap berbagai sumberdaya yang dibutuhkan untuk percepatan pembangunan wilayah kecamatan dengan tetap memperhatikan daya dukung dan dampak lingkungan;

4. Meningkatkan pengelolaan semua potensi daerah secara profesional berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas serta optimalisasi kemitraan antar pelaku pembangunan dalam meningkatkan kemajuan di segala bidang dengan prioritas dalam bidang pertanian;

5. Pengelolaan Keuangan Daerah yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel serta peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat dan daerah dengan penciptaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara realistis melalui peran aktif tiga domain ekonomi (rakyat, swasta, dan pemerintah);

6. Meningkatkan kesadaran, pemahaman, dan pengamalan agama bagi seluruh masyarakat.


Mengingat banyaknya permasalahan pokok yang terkait dengan penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah, visi dan misi pembangunan Kabupaten Bima untuk jangka menengah 2006-2010 dirumuskan berdasarkan beberapa pertimbangan penting terutama pertimbangan kemampuan keuangan daerah. Namun demikian visi dan misi yang telah ditetapkan tetap mengarah kepada tercapainya tujuan pembangunan nasional yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur sesuai dengan Pembukaan UUD 1945.

Letak Geografis

Kabupaten Bima terletak di bagian Timur Pulau Sumbawa Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan posisi 117°40' sampai 119°10 BT dan 70°30' LS dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

◊ Sebelah Utara : Laut Flores
◊ Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
◊ Sebelah Timur : Selat Sape
◊ Sebelah Barat : Kabupaten Dompu




Luas Wilayah Kabupaten Bima adalah 4.596,90 Km2 atau 22.5% dari total luas Propinsi NTB. Secara Administratif Kabupaten Bima terdiri dari 16 Kecamatan dan terdapat satu Kota Administratif yakni Kotip Bima. Semula hanya ada 10 Kecamatan, namun pada Tahun 2000 enam kecamatan mengalami pemekaran yang telah didefinitifkan Tahun 2001.


Secara topografis wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan sementara sisanya (30%) adalah dataran. sekitar 14% dari propinsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan lebih dari separuh merupakan lahan kering.




Seni dan Budaya



Pacoa Jara (Pacuan Kuda)
Pacuan Kuda atau dalam bahasa Bima disebut “Pacoa Jara” tampaknya makin marak di Bima. Paling tidak pacuan kuda diselenggarakan 2 kali setahun, yaitu pada hari-hari besar seperti Hari Proklamasi (Agustus) dan Hari Pemuda (Oktober). Pacuan kuda ini dilaksanakan dalam bentuk kejuaraan, bahkan melibatkan juga peserta dari daerah lain, Dompu, Sumbawa, hingga dari Lombok. Yang menarik, hadiah bagi jawara pacuan kuda ini tidak sedikit, sehingga banyak peminatnya. Hadiah pertama antara lain sebuah sepeda motor + sepasang anak sapi + hadiah lainnya. Setiap peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000,- Jika ternyata kalah dan keluar, peserta yang penasaran bisa mendaftar lagi. Nah, untuk satu periode pacuan, jumlah pendaftar ini bisa mencapai 800 hingga 1000 peserta! Selain di Panda, arena pacuan ada juga di kota Bima dan di Sila.

Ntumbu (Adu Kepala)
Salah satu budaya bima yang masih bertahan dan terus dikembnangkan adalah adu kepala. Buaya dan sekalugus keseniaan ini berlokasi di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Tradisi yang sudah berumur sama dengan keberadaan daerah bima ini tidak sembarang orang dapat memainkannya. Hal ini karena perlu dipelajari secara serius dan mendalam melalui seorang guru. Sehingga tidak heran, hanya terdiri dari beberapa orang saja yang mampu memerankan tradisi tersebut. Belum lama ini digelar budaya adu kepala di halaman Kantor Bupati Bima dan mendapat prehatian luas dari masyarakat, termasuk turis manca negara.

Tinjauan dan Analisis Pertumbuhan Ekonomi

Tinjauan dan Analisis Pertumbuhan Ekonomi Secara Sektoral Selama 2000-2005 a. Sektor Primer Yang dikelompokkan dalam sektor primer adalah sektor pertanian dan penggalian/pertambangan. Sektor pertanian selama 2000-2005 tumbuh rata-rata sebesar 3,6%. Peningkatan pada sektor ini disebabkan karena peningkatan pada hampir semua sub sektornya, kecuali sub sektor kehutanan masih mengalami pertumbuhan negatif sebesar -20,12% pada tahun 2004 dan sub sektor tanaman pangan tumbuh negatif sebesar 1,15% pada tahun 2005. Masih maraknya kasus iIlegal logging di Bima merupakan salah satu penghambat pertumbuhan sub sektor kehutanan. Hal ini disebabkan oleh jumlah kebutuhan kayu yang sangat tinggi belum dapat diimbangi oleh sisi penawarannya

Kebanyakan lokasi penebangan liar ini terjadi di wilayah sekitar Gunung Tambora, dan beberapa kawasan di wilayah Kabupaten Bima.Sementara turunnya pertumbuhan sub sektor tanaman pangan lebih banyak disebabkan faktor cuaca dan kekeringan disamping terjadinya fluktuasi harga input produksi. Dari sektor pertanian, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sub sektor perikanan 4,4% diikuti oleh sub sektor peternakan sebesar 4,2%, dan perkebunan 4,0%. Pertumbuhan terendah terjadi pada tanaman bahan makanan sebesar 3,4%. Kontribusi sub sektor terhadap PDRB berturut-turut: tanaman pangan ( 33,23%), perikanan (8,96%) dan peternakan (6,36%). Selain itu saat ini di Bima sedang digalakkan penanaman jarak pagar sebagai sumber bahan bakar alternatif. Sementara itu, sub sektor tanaman bahan makanan juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,4% antara lain didorong oleh meningkatnya supply palawija, terutama dari tanaman jagung, bawang merah dan kedelai serta hortikultura. Gangguan supply diakibatkan oleh kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah Bima. Kondisi tersebut diperburuk dengan sistim pengairan sawah sebagian besar masyarakat Bima yang masih tergantung pada hujan. Hanya sedikit yang telah memanfaatkan sistem irigasi. Di samping itu, dari sisi permintaan, tingkat permintaan atas produksi hasil tanaman palawija juga terus meningkat. Kebutuhan akan produksi jagung saat ini sangat tinggi, karena adanya permintaan dari dalam dan luar negeri (Philipina dan Malaysia), namun demikian belum seluruh permintaan tersebut dapat dipenuhi karena produksi jagung di Kabupaten Bima belum terlalu banyak. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada tahun 2006, di Bima diadakan program peningkatan produksi jagung, yang akan didukung oleh tiga agro sistem yaitu potensi lahan kering, lahan sawah yang dimanfaatkan pada musim kemarau dan daerah irigasi. Selain jagung, kedelai juga memiliki potensi yang cukup besar di Kabupaten Bima. Demikian pula dengan kacang tanah yang pengembangannya hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Bima. Sementara itu, permintaan terhadap hasil ternak (terutama kerbau dan sapi) Bima yang cukup tinggi baik dari dalam negeri (jakarta dan jawa barat) maupun luar negeri (Venezuela, Malaysia dan Timor Leste). Potensi permintaan yang masih tinggi tersebut merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan yang terjadi di sub sektor peternakan. Kebijakan pembangunan yang diambil terkait sektor primer adalah : ”Pertumbuhan PDRB pada sektor pertanian (perikanan, tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan kehutanan) dapat dilakukan melalui peningkatan produksi, produktivitas, stabilisasi harga input maupun output. Dengan demikian, Indeks Nilai Tukar Petani terus meningkat yang menunjukkan meningkatnya kesejahteraan petani. Untuk meningkatkan produksi maupun produktivitas dapat dilakukan melalui dinas tekhnis yang terkait, sementara stabilisasi harga menjadi kebijakan pemerintah secara umum yang tidak dapat ditangani secara sektoral. Oleh karena itu investasi sarana publik untuk bendungan, saluran irigasi, teknologi pengolahan lahan, benih dan berbagai input produksi lainnya harus mendapat perhatian yang lebih, terutama dalam hal anggarannya. Diversifikasi komoditi harus dilakukan sesuai dengan karakteristik lahan dan wilayah untuk mengatasi dan menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan. b. Sektor Sekunder Industri Pertumbuhan sektor industri pengolahan selama 2000-2005 adalah sebesar 3,9%, yang berarti lebih tinggi dari sektor pertanian. Meskipun tumbuh lebih tinggi, sektor ini hanya menyumbang 2,85 % terhadap total PDRB pada tahun 2005. Oleh karenanya, masih diperlukan kerja keras untuk membangun industri di Kabupaten Bima guna menggerakkan ekonomi ke depan. Industri yang berkembang di Kabupaten Bima adalah industri yang masih berskala kecil dan menengah, yang meliputi Bidang Industri Kerajinan, Agro dan Hasil Hutan dan Bidang Industri ILMEA (elektronika, alat angkut dan tekstil). Secara umum skala usaha industri masih berskala kecil dan menengah. Umumnya didominasi industri rumah tangga. Perkembangan industri yang menonjol adalah industri yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal seperti makanan dan kerajinan dan elektronika, tekstil. Adapun industri yang dijual keluar daerah belum banyak dilakukan. Hal inilah yang menyebabkan tersendatnya pertumbuhan kontribusi sektor industri. Minimnya perkembangan industri kerajinan seperti furniture karena kalah bersaing dengan produk dari daerah lain dalam hal teknologi, desain dan kualitas lainnya. Kebijakan pembangunan yang diambil terkait sektor Sekunder adalah : ” Pertumbuhan pada sektor sekunder diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dengan mengembangkan industri yang berbasis resources dan menggunakan local content, seperti industri IKAHH dan industri lain yang mendukung sektor jasa. Yang perlu didorong di bidang industri adalah peningkatan skala usaha dengan kebijakan pengembangan industri, dimana saat ini umumnya berskala industri rumah tangga dan kecil. Peningkatan skala usaha harus dilakukan dengan memulai pemihakan pada pemasaran produk hasil industri yang disertai pembinaan di bidang produk dalam hal kualitas, kontinuitas dan kuantitas sesuai dengan permintaan pasar. Pengembangan usaha industri dapat dilakukan melalui beberapa program dalam APBD dan dukungan perbankan”. c. Sektor Tersier Sektor jasa yang sangat dominan adalah : sektor perdagangan, sektor perhubungan dan sektor pariwisata. Sektor perdagangan selama 2000-2005 tumbuh rata-rata sebsar 4,6% yang disumbang oleh sub sektor perdagangan besar dan eceran. Disamping itu, sektor yang mengalami pertumbuhan tinggi selama periode yang sama adalah sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 5,3%, sedangkan sub sektor komunikasi sebesar 7,6%. Tingginya pertumbuhan sub sektor komunikasi sangat berkaitan dengan semakin banyak penggunaan hand phone, counter, pendirian tower pemancar dari berbagai perusahaan telekomunikasi di Kabupaten Bima. Sektor keuangan, khususnya perbankan juga tumbuh dengan laju yang sangat tinggi, yang dipengaruhi oleh ekspansi kredit perbankan seiring membaiknya pertumbuhan sektor riil. Tumbuh dan berkembangnya usaha perdagangan formal telah dapat memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.Perdagangan kecil dan eceran terus mengalami pertumbuhan di desa maupun di kota kecamatan. Pusat pertumbuhan perdagangan masih didominasi oleh kecamatan Sape, Bolo dan Woha dimana telah memiliki bangunan pasar yang permanen dan memiliki aktivitas ekonomi yang tinggi. Sementara sektor hotel dan restoran terus mengalami pertumbuhan seiring membaiknya ekonomi secara keseluruhan dan sebagai dampak berkembangnya transportasi udara dan berkembangnya kota. Interaksi antara Kabupaten dan Kota Bima sangat dirasakan dengan hadirnya kota Bima yang menambah jumlah uang yang beredar. Restoran dan Hotel juga tumbuh sejalan dengan bergairahnya wisata domestik dari wilayah NTB maupun dari luar NTB. Kebijakan pembangunan yang diambil terkait sektor tersier adalah : ” Pertumbuhan sektor jasa diarahkan peningkatan pusat perdagangan, hotel dan restoran. Khusus perdagangan dikembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru yang dapat menjual beberapa hasil pada sektor pertanian maupun industri bahkan diusahakan keluar daerah dan keluar negeri. Pengembangan sektor wisata juga harus dilakukan secara terpadu dengan sektor industri.Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa PDRB tidak menghitung kegiatan illegal, usaha informal dan komoditi yang dikonsumsi sendiri. Perdagangan yang perlu dikembangkan adalah yang bersifat lintas pulau dan wilayah. Penataan sarana dan prasarana, dan juga diperhatikan adalah sarana pasar desa, pasar khusus komoditi tertentu. Sementara yang berkaitan dengan pengembangan wisata, adalah wisata yang berbasis alam dan budaya, yang dipadukan dengan pengembangan industri kerajinan dan souvenir, pengembangan hotel dan restoran”.

Agenda Pembangunan

ΘAgenda Perwujudan Masyarakat Maju, Mandiri, dan Sejahtera

Masyarakat maju, mandiri, dan sejahtera mengandung makna terpenuhinya kebutuhan dasar (material dan spiritual) dan kebutuhan penunjang lainnya secara mandiri dan berkelanjutan untuk memenuhi standar hidup yang lebih baik/layak.
Program - Program Pembangunan :

1. Program Peningkatan Ekonomi Masyarakat Miskin
Program ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat guna meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan melalui pemanfaatan sumber daya yang ada secara optimal, dan mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin dalam mengakses kebutuhan dasar dan infrastruktur sosial ekonomi.
2. Program Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
Program ini bertujuan untuk memajukan kondisi kehidupan masyarakat yang lebih baik melalui penataan ekonomi kerakyatan dan penciptaan iklim usaha yang kondusif.
3. Program Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Aparatur Pemerintah
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas SDM daerah dalam mendukung pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
4. Program Pembangunan Ketenagakerjaan
Program ini bertujuan untuk meningkatan keterampilan, keahlian, kompetensi tenaga kerja dan kesempatan kerja produktif, menciptakan keharmonisan kerja serta mendorong mobilitas tenaga kerja dalam rangka mengurangi angka pengangguran (pengangguran terselubung dan setengah penganggur).
5. Program Pembangunan Perdesaan
Program ini bertujuan untuk membangun kawasan perdesaan melalui peningkatan infrastruktur perdesaan, peningkatan kapasitas pemerintah di tingkat lokal, meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha ekonomi di kawasan perdesaan, serta meningkatkan keterkaitan antara sektor pertanian dan non pertanian.
6. Program Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial
Program ini bertujuan untuk memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi para penyandang kesejahteraan sosial, meningkatkan keberdayaan sosial dan kualitas hidup fakir miskin, peningkatan dan pengembangan kebijakan sosial di daerah, meningkatan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial, serta memberikan bantuan dasar kesejahteraan bagi korban bencana alam.
7. Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur
Program ini ditujukan untuk membuka keterisolasian wilayah dan meningkatkan pendistribusian hasil-hasil produksi pertanian, mengoptimalkan pemanfaatan prasarana jalan, penyebrangan laut, dan udara yang telah dimiliki, meningkatkan pemerataan penerangan listrik bagi daerah perdesaan dan terpencil, penyediaan air bersih dan penataan sumber daya air.
8. Program Peningkatan Peran Serta Perempuan dalam Pembangunan Daerah
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup, peran dan kedudukan perempuan diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan sehingga tercipta kemandirian dan kesetaraan gender.
9. Program Pembangunan Kependudukan, Keluarga Berencana, Pemuda dan Olahraga
Program ini bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk, pendataan kependudukan serta memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan keluarga berencana dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas. Di sisi lain, program ini ditujukan untuk mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas pemuda pada bebagai bidang kehidupan, termasuk bidang olahraga.
10. Program Peningkatan Ketahanan Sosial Budaya
Program ini bertujuan untuk menciptakan keserasian hubungan antara komunitas sosial dan antar budaya daerah, memperkuat jati diri dan identitas daerah, dan menciptakan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah.
11. Program Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Program ini bertujuan untuk memfasilitasi terselenggaranya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomi, sehat dalam persaingan, peningkatan kinerja usaha UMKM, mempeluas akses UMKM kepada sumber daya produktif, dan mengembangkan semangat kewirausahaan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak dalam kegiatan ekonomi sektor informal yang berskala kecil.
12. Program Peningkatan Kesehatan Masyarakat
Program ini bertujuan untuk memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat agar menumbuhkan prilaku hidup sehat, mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat, meningkatkan pemerataan kualitas pelayanan kesehatan melalui puskesmas, meningkatkan penyebaran tenaga kesehatan, meningkatkan kesadaran gizi masyarakat, serta menjamin ketersediaan dan keterjangkuan obat bagi kebutuhann masyarakat.
13. Program Peningkatan Pendidikan Masyarakat
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat dalam memperoleh mutu pelayanan pendidikan yang berkualitas dan memadai, pemerataan pendidikan bagi penduduk laki-laki dan perempuan baik melalui jalur formal seperti pendidikan usia dini, pendidikan dasar 9 tahun, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi maupun melaui jalur non formal seperti kursus, pelatihan, dan magang sehingga dapat berkontribusi secara optimal dalam pembangunan. Disamping itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM bidang pendidikan.
14. Program Peningkatan Stabilitas, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
Program ini bertujuan untuk meningkatkan stabilitas, keamanan, ketertiban, dan keharmonisan hidup masyarakat serta terciptanya situasi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan daerah. Indikasi tercapainya program ini terukur dari semakin berkurangnya konflik horisontal dan penyakit sosial lainnya.


Agenda Kepemerintahan Yang Baik
Kepemerintahan yang baik mengandung makna mewujudkan tata pemerintahan yang baik antara lain: keterbukaan, akuntabilitas, efektifitas dan efisiensi, menjunjung tinggi supremasi hukum dan membuka partisipasi masyarakat yang dapat menjamin kelancaran, keserasian, keterpaduan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

ΘProgram - Program Pembangunan

1. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat
Program ini bertujuan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan guna mewujudkan kondisi pemerintahan daerah yang berdasarkan pada prinsip-prinsip good governance.
2. Program Penataan Kelembagaan Pemerintahan Daerah
Program ini ditujukan untuk menata kembali kelembagaan satuan kerja yang ada di daerah agar penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat berjalan secara efisien dan efektif.
3. Program Peningkatan Kualitas Aparatur Daerah
Program peningkatan kualitas aparat pemerintah daerah dimaksudkan untuk mewujudkan aparat pemerintah daerah yang baik, bersih, berwibawa, bertanggungjawab pada semua tingkatan kepegawaian guna mendukung pembangunan daerah dalam era otonomi dan desentralisasi.
4. Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan Pengembangan Budaya Hukum
Program peningkatan kesadaran hukum dan pengembangan budaya hukum dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya mengetahui produk hukum yang berlaku di daerah sehingga terciptanya kondisi yang kondusif dalam membentuk pemerintahan yang baik di daerah.
5. Program Pengembangan Produk Hukum
Program pengembangan produk hukum merupakan bagian penting dari agenda pembentukan pemerintahan yang baik, ditujukan untuk mengarahkan produk hukum yang mampu memberikan jaminan kepastian hukum bagi penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan sehingga setiap pelaku pembangunan dapat melaksanakan tugasnya sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
6. Program Penyelenggaraan Pemerintahan Yang Bebas KKN dan Anti Diskriminatif
Program ini dimaksudkan untuk menata kembali sistem pemerintahan yang bersih dari kasus KKN dan pelanggaran HAM sehingga proses pembangunan daerah dapat berlangsung dengan baik.

Agenda Pembangunan Berwawasan Lingkungan
Pembangunan yang berwawasan lingkungan bermakna pemanfaatan sumber daya alam dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan. Mendayagunakan sumberdaya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal serta penataan ruang.

ΘProgram-Program Pembangunan

1. Program Pengamanan dan Pelestarian Sumber Daya Hutan
Program ini bertujuan untuk mendorong kepedulian masyarakat, menciptakan sistem dan perangkat hukum pemerintah daerah yang memberi perlindungan dan
pengamanan terhadap eksistensi hutan sebagai penopang kehidupan dari berbagai kegiatan penjarahan, penebanngan liar (illegal logging), perladangan berpindah dan berbagai bentuk penyerobotan terhadap kawasan hutan.
2. Program Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Program ini bertujuan untuk meminimalisasi dampak-dampak secara fisik, ekonomi maupun sosial budaya dari pengelolaan sumber daya alam.
3. Program Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan
Program ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi hutan secara lebih efisien, optimal, dan berkelanjutan dengan mewujudkan pengelolaan hutan rakyat dan hutan negara yang lestari.
4. Program Pengembangan dan Pengelolaan Sumberdaya Laut
Program ini bertujuan untuk mengelola dan mendayagunakan potensi sumber daya laut, pesisir, dan pulau—pulau kecil secara optimal, lestari dengan keterpaduan antar berbagai pemanfaatan sehingga memberi kontribusi bagi pendapatan asli daerah, pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
5. Program Pembinaan Usaha Pertambangan
Program ini bertujuan untuk mengelola kegiatan usaha pertambangan agar berperan sebagai sumber penerimaan pendapatan daerah yang penting, mengembangkan potensi pertambangan secara optimal, dan meningkatkan kualitas SDM bidang pertambangan.
6. Program Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Alam
Program ini bertujuan untuk melindungi sumber daya alam dari kerusakan dan mengelola kawasan konservasi yang sudah ada untuk menjamin kualitas ekosistem agar fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan dapat terjaga dengan baik.
7. Program Pemulihan Sumberdaya Alam
Program ini bertujuan mempercepat pemulihan sumber daya alam sehingga berfungsi sebagai penyangga sistem kehidupan dan juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan.
8. Program Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup
Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan sumberdaya alam dan fungsi lingkungan hidup melalui tata kelola yang baik berdasarkan prinsip transparansi, partisipatif, dan akuntabilitas.
9. Program Peningkatan Koordinasi, Pengendalian, dan Pengawasan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup
Program ini bertujuan untuk menciptakan sistem koordinasi dan pengawasan yang terstruktur, dan berjenjang melalui pemanfaatan teknologi dan informasi dalam menjamin kontinuitas kelestarian pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup sehingga dapat dijadikan input dalam merumuskan kebijakan pengelolaan SDA dan lingkungan hidup.
10. Program Penataan Ruang Wilayah
Program ini bertujuan untuk menciptakan kerangka dasar pembangunan berwawasan lingkungan melalui pengembangan sistem pengelolaan dan menciptakan tata-ruang guna mengoptimalkan fungsi dan ketersediaan lahan secara efesien, efektif, dan terpadu.
11. Program Penataan Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Program ini bertujuan untuk mewujudkan kelembagaan pemerintah yang memiliki kapasitas, profesionalisme, dan kewenangan dalam menjalankan tugas dan fungsinya, termasuk penyediaan perangkat hukum daerah.
12. Program Pembangunan Pariwisata
Program ini bertujuan untuk menjual keunikan budaya dan keaslian alam hutan dan pantai yang berkaitan kegiatannya.Pengembangan pariwisata diupayakan menyatu dengan konsep alam dan segala aktifitas baik wisata, transportasi maupun limbah dikelola secara bijaksana
13. Program Pembangunan Ibu Kota Kabupaten
Program ini bertujuan untuk pembangunan pusat pemerintahan Kabupaten Bima sebagai konsekuensi pemekaran wilayah pemerintah Kota Bima.
Agenda Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
Pertanian yang berkelanjutan merupakan mekanisme pengelolaan potensi sumberdaya pertanian secara bijaksana dan lestari yang bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian dalam arti luas untuk mencukupi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang secara berksinambungan. Pertanian dalam arti luas mencakup tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan. Pengembangan pertanian yang berkelanjutan dilakukan melalui proses pengembangan pertanian yang terintegrasi dengan pengembangan masyarakat, pengembangan pedesaan dan wilayah dan pembangunan daerah secara keseluruhan.

Program - Program Pembangunan

1. Program peningkatan kualitas SDM petani
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat tani dalam pengelolaan produksi pertanian secara berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara umum.
2. Program Peningkatan Ketahanan Pangan
Program ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan gizi dan pangan bagi masyarakat serta meningkatnya keanekaragaman produksi pangan.
3. Program Penguatan Kelompok Usaha Masyarakat
Tersedianya kelompok - kelompok usaha bersama (KU B) dan atau kelompok masyarakat (POKMAS) yang dapat mendukung pembentukan dan pemberdayaan secara ekonomis kelompok usaha desa. Keberhasilan pengembangan kelompok usaha bersama akan menciptakan peluang usaha serta peluang kerjasama bagi semua pihak dalam rangka mempercepat pembangunan daerah.
4. Program Pengelolaan Penyuluhan, Bimbingan dan Pendampingan Masyarakat
Tujuan program ini adalah tersedianya tenaga penyuluh yang memiliki keterampilan untuk memberikan penyuluhan, bimbingan, dan pendampingan secara tertib, teratur, dan berkelanjutan. Keberhasilan program pengelolaan penyuluhan dapat mendukung terhadap perubahan prilaku masyarakat dalam menerapkan teknologi tepat guna.
5. Program Penguatan Modal Usaha Masyarakat Petani Miskin
Program ini diarahkan pada peningkatan modal usaha ekonomi produktif melalui pemberian dana bergulir (revolving fund). Pemberian dana dalam bentuk Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) ini ditujukan kepada kelompok masyarakat dan atau individu dengan persyaratan bahwa calon penerima bantuan modal harus membuat rencana usaha (business plan).
6. Program Peningkatan Kemampuan Kewirausahaan Masyarakat Petani
Arah pengembangan sumberdaya manusia dan kewirausahaan perlu difokuskan pada perubahan prilaku petani dalam arti luas secara perorangan dan kolektif ke arah penggunaan sumberdaya secara lebih produktif dan berkesinambungan, sadar resiko dan berani mengemban resiko serta berorientasi pasar. Masyarakat tani hendaknya mampu memodifikasi yang telah ada atau mampu menciptakan produk-produk baru berdasarkan analisis pasar dan perhitungan keuntungan sebagai rasio input dan output. Disamping itu juga sebagai upaya untuk meningkatkan efektifitas partisipasi dan daya tawar kolektif (collective bargaining power) dalam segala bidang, meliputi ekonomi, sosial budaya dan politik. Petani harus mendapat kemampuan dan kesempatan untuk mempengaruhi dan atau menentukan sendiri keputusan-keputusan penting yang akan mempengaruhi kesinambungan usaha dan kehidupan mereka.
7. Program Pengembangan Fungsi Lembaga Penyehatan Tata Niaga Hasi Pertanian
Program ini ditujukan untuk meningkatkan permodalan ekonomi kecil dan menengah guna mendorong kemajuan usaha mereka melalui pemberian pinjaman modal bergulir, pembentukan mikro kredit masyarakat dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa dengan pengembangan koperasi dan usaha simpan pinjam maupun lembaga keuangan mikro lainnya. Disamping itu juga diarahkan melakukan stabilisasi harga hasil-hasil produksi pertanian, melalui pembentukan lumbung pangan daerah dan dukungan terhadap koperasi unit desa untuk mengendalikan jumlah dan harga produksi yang berpihak kepada petani.
8. Peningkatan Produksi, Pengolahan Hasil, dan Pemasaran Produk Pertanian
Program ini diarahkan dalam rangka peningkatan nilai tambah dari hasil olahan produksi pertanian melalui pengolahan pasca panen dan jaringan pemasaran yang baik untuk meningkatkan pendapatan petani.
9. Program Pengembangan Sarana Produksi Pertanian
Program pengembangan sarana produksi pertanian bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan sarana pendukung produksi pertanian sehingga proses produksi pertanian dapat berjalan dengan baik.
10. Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Irigasi Pertanian
Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana irigasi pertanian guna meningkatkan produktifitas hasil-hasil pertanian dan mendukung intensifikasi dan diversifikasi produksi pertanian.
11. Program Pengembangan Agrobisnis
Program ini bertujuan untuk mengembangkan ekonomi rakyat melalui pengembangan sistem agrobisnis sehingga mampu menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing tinggi.
12. Program Pemantapan Kawasan Sentra Produksi
Program pemantapan kawasan sentra produksi bertujuan untuk pemwilayahan komoditas unggulan yang dikelola secara profesional dengan penerapan sistem agribisnis terpadu.
13. Program Pengembangan Pertanian Lahan Kering
Program ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian melalui perluasan areal tanam dengan memanfaatkan lahan-lahan yang tidak produktif. Disamping itu juga bertujuan untuk melindungi dan memperbaiki kualitas lahan kering agar mampu mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan.
14. Program Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Program ini bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian dengan menerapkan inovasi-inovasi baru dalam setiap tahapan proses produksi pertanian.
15. Program Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan
Program ini bertujuan untuk mengelola potensi sumber daya perikanan dan kelautan secara optimal dan berkelanjutan.
16. Program Pemantapan Potensi Sumberdaya Hutan
Program ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi sumber daya hutan secara bijak, lestari, dan berkelanjutan agar memberi manfaat secara ekonomi bagi masyarakat dengan tetap menjaga kesinambungan fungsi hutan sebagai bagian dari ekosistim yang menunjang kelangsungan hidup masyarakat.

Agenda Peningkatan Pengelolaan Keuangan Daerah

Pengelolaan Keuangan Daerah dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi Penerimaan dan sisi Pembelanjaan. Peningkatan Pengelolaan Keuangan Daerah dari sisi penerimaan diindikasikan dengan meningkatnya penerimaan daerah dari berbagai sumber penerimaan, terutama yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah sebagai akibat meningkatnya kemampuan Pemerintah Daerah dalam memanfaatkan potensi penerimaan yang sudah ada (pola intensifikasi) maupun menggali sumber­sumber potensi baru (pola ekstensifikasi). Sedangkan Peningkatan Pengelolaan Keuangan Daerah dari sisi pembelanjaan yaitu alokasi pembiayaan yang dilaksanakan dengan berpedoman pada prinsip efisiensi dan efektivitas.

Program-Program Pembangunan

1. Program Penataan Sistem Pengelolaan Keuangan Daerah
Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan daerah dan menjamin terselenggaranya sistem administrasi keuangan daerah yang terarah, efisien, transparan dan akuntabel.
2. Program Optimalisasi Penerimaan PAD
Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan penerimaan PAD berdasarkan potensi riil yang dimiliki Kabupaten Bima.


Agenda Peningkatan Kesadaran, Pemahaman, dan Pengamalan Agama
Peningkatan Kesadaran, Pemahaman, dan Pengamalan Agama mengandung makna bahwa masyarakat dalam menjalankan aktivitas keseharian selalu dilandasi dengan nilai-nilai keagamaan. Kualitas masyarakat dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama semakin baik yang ditandai dengan semakin harmonisnya hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain (interaksi sosial), hubungan manusia dengan alam maupun hubungan manusia dengan Tuhannya.

Program-Program Pembangunan

1. Program Peningkatan Pemahaman dan Pengamalan Agama serta Peningkatan Kerukunan Intern dan Antar Umat Beragama
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama bagi seluruh masyarakat serta memperkuat dasar-dasar kerukunan hidup inter dan antar umat beragama.
2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Keagamaan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan kemudahan bagi umat beragama dalam melaksanakan kegiatan keagamaan.
3. Program Penguatan Kapasitas Lembaga Keagamaan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Lembaga Keagamaan dalam menunjang terselenggaranya kehidupan beragama yang berkualitas bagi masyarakat sehingga mampu menunjang keberhasilan pembangunan daerah.


Produk Unggulan Bima



Tembe Nggoli adalah sarung tenun tangan khas Bima, dibuat dari benang kapas (katun), dengan warna-warni yang cerah dan bermotif khas sarung tenun tangan.
Keistimewaanya Tembe Nggoli antara lain:
⋅ Hangat
⋅ Halus dan lembut
⋅ Tidak mudah kusut
⋅ Warna cemerlang lebih lama

Saat ini, Tembe Nggoli sudah diproduksi dalam berbagai macam corak dan motif. Ada yang 'biasa' (untuk dipakai sehari-hari), dan ada pula yang istimewa yang hanya dipakai pada acara-acara resmi.

Bagi orang Bima, memakai sarung lazim dilakukan baik oleh kaum pria maupun wanita. Wanita Bima memakai sarung sebagai 'bawahan', bahkan masih ada yang menggunakan dua buah sarung, yang disebut "rimpu". Rimpu adalah cara wanita Bima menutup aurat bagian atas dengan sarung sehingga hanya kelihatan mata atau wajahnya saja. Rimpu yang hanya kelihatan mata disebut "rimpu mpida".

Cara memakai sarung antara pria dan wanita berbeda. Bagi kaum pria, sarung dipakai seperti layaknya kaum pria di Indonesia lainnya, yaitu digulung ketat pada perut/pinggang, yang disebut "katente". Bagi kaum wanita, sarung tidak digulung melainkan dilipat dan diselipkan (dijepit agar tidak terlepas), yang disebut "sanggentu". Selain itu perbedaan juga terletak pada posisi "bali" (yaitu bagian sarung yang diberi warna/motif berbeda, biasanya ditaruh pada bagian belakang ketika dipakai). Bagi kaum pria, 'bali' diletakkan agak ke kanan, sedangkan bagi kaum wanita 'bali' diletakkan agak ke kiri. Pemahaman tentang letak 'bali' ini menunjukkan tingkat pengetahuan pemakai sarung, atau menunjukkan ketelitiannya dalam berpakaian.

Masyarakat Bima juga menggunakan sarung sebagai selimut ketika tidur. Masyarakat yang tradisional bahkan tidak pernah atau tidak suka menggunakan selimut yang biasa, tetapi lebih nyaman menggunakan sarungnya yang hangat.

Kini, sarung Bima atau Tembe Nggoli banyak dijadikan koleksi atau oleh-oleh khas dari Bima.

Sumber : data base kab.bima, www.bimacenter.com



Mutiara Alam Bima


Mutiara bukan hanya suatu keindahan yang selalu diimpikan oleh setiap wanita, akan tetapi juga merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya yang perlu ditingkatkan produksinya. Karena hampir seluruh produksinya ditujukan untuk diekspor keluar negeri. Saat ini para pembeli mutiara Indonesia di Jepang telah banyak yang mengetahui bahwa mutiara tersebut berasal dari Indonesia, sehingga akan lebih baik bila membeli secara langsung dari Indonesia. Peningkatan produksi yang dicapai saat ini, dinilai cukup besar. Selama periode 2005-2009 produksi mutiara diharapkan meningkat dari 12 ton pada tahun 2005 menjadi 18 ton pada tahun 2009.

Memang pengembangan usaha budidaya mutiara masih banyak mengalami hambatan baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Walaupun saat ini kondisi keamanan dapat dikatakan lebih kondusif, tetapi masih sulit bagi perusahaan budidaya mutiara yang telah hancur untuk bangkit kembali.


Untuk membangkitkan kembali usaha budidaya mutiara sekaligus menciptakan iklim usaha yang kondusif, pada TA 2003 melalui dana dekonsentrasi telah dialokasikan dana untuk penguatan modal bagi kelompok pembudidaya kerang mutiara KUB Bangket Segara Lauq di Kab. Lombok Timur-NTB sebesar Rp 500 juta, berupa pengadaan sarana budidaya dan produksi termasuk benih kerang mutiara. Kegiatan in dilanjutkan lagi pada tahun 2004 dengan dana sebesar Rp. 450 Mutiara juta, dengan penerima bantuan yangsama. Hal ini dilakukan agar dampak pengembangan usaha budidaya mutiara oleh KUB Bangket Segara Lauq dapat dilihat lebih nyata. Sedangkan pembinaan teknisnya dilakukan oleh Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Pantai (BPBPP) Sekotong.

Dilihat dari ukuran kerang mutiara yang dibudidayakan menunjukkan perkembangan yang cukup bagus. Baik yang dilakukan dengan dana penguatan modal TA. 2003 maupun TA 2004. Disamping itu terlihat adanya kemitraan usaha antara pemasok benih dengan KUB. Melalui kegiatan ini diharapkan agar masyarakat yang semula hanya merupakan "Penonton", dapat memiliki usaha sendiri sekaligus mengamankan lokasi tersebut dari penjarahan.

Untuk mengevaluasi keberhasilan sekaligus menginventarisir permasalahan dalam pelaksanaan kemitraan, serta mempertemukan langsung perusahaan/ UPT pensuplai benih dengan kelompok pembudidaya, pada pertengahan Mei 2005 lalu, di NTB telah diselenggarakan Temu Kemitraan Usaha Budidaya Mutiara, yang dihadiri oleh wakil-wakil dari Ditjen. PK2P Ditjen. Perikanan Budidaya, Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. NTB, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lombok Timur, Kab. Lombok Barat, Kab. Sumbawa, Kab. Dompu dan Kab. Bima, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), PT. Bank NTB, BPBPP Sekotong, Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Sumbawa Barat, Loka Budidaya Laut Lombok, Perusahaan Budidaya Mutiara di Prov. NTB dan KUB Bangket Segara Lauq.

Perkembangan kemitraan
Kemitraan Usaha Budidaya Mutiara di NTB yang telah dilakukan pada tahun 2000 di Kab. Sumbawa dan Kab. Lombok Barat untuk pengadaan sarana budidaya didanai oleh DanaAlokasi Khusus (DAK), dengan bimbingan teknis dilakukan oleh PT. Selat Alas dan PT. Sima Mutiara. Kemitraan usaha di Kab.Bima dilakukan oleh PT. Bima Sakti Mutiara secara swadaya. Tetapi Kemitraan Usaha ini tidak berkelanjutan, disebabkan pola kemitraan usaha yang belum mantap, sedangkan di Kab. Bima sampai saat ini masih berlang-sung.

Sedangkan untuk Kab. Lombok Timur dimulai pada tahun 2003 dan dilanjutkan pada tahun 2004 melalui dana dekonsentrasi untuk penguatan modal KUB Bangket Segara Lauq yang terdiri dari 50 orang pembudidaya, yang juga merupakan pembudidaya kerapu dan lobster, bermitra dengan PT. Selat Alas, PT. Budidaya Mutiaratama dan PT. Buana Gemilang Hamparan Mutiara (BGHM).

Kegiatan ini dilanjutkan pada tahun 2005 yang merupakan bagian dari kegiatan Program Budidaya Pedesaan (BUPEDES), dilakukan dalam bentuk pembelian benih kerang mutiara, teknologi insersi inti dan penampungan kerang mutiara serta pemasaran biji mutiara. Benih diperoleh dari PT. Budidaya Mutiaratama, PT. Selat Alas, BPBPP Sekotong sebanyak 13.000 ekor dan kerang mutiara dari alam sebanyak 500 ekor.

Hingga saat ini stock kerang mutiara sebanyak 80 ekor ukuran 1 - 3 cm, 6.258 ekor ukuran 5-8 cm dan 1.000 ekor kerang mutiara ukuran 8-12 cm yang sudah diinsersi dan diperkirakan akan panen pada bulan Juni - Juli 2006.

Untuk memantapkan kemitraan usaha, dalam kesem-patan ini telah dilakukan penan-datanganan Nota Kesepahaman antara : KUB dengan PT Selat Alas, PT Budidaya Mutiaratama sebagai pemasok benih kerang mutiara; KUB dengan LBL Lombok dan BPBPP Sekotong dalam penyediaan benih, pendampingan teknologi budidaya mutiara dan pembinaan SDM, dan KUB dengan PT. BGHM yang menampung kerang mutiara, insersi inti dan pemasaran biji mutiara.

Harapan
Dengan pertemuan ini, diharapkan adanya upaya yang mampu mendorong peningkatan perkembangan budidaya mutiara di Indonesia, yang antara lain: pembebasan PPn 10 % kerang dan biji mutiara; sertifikasi mutu biji mutiara dan penerapan Surat Keterangan Asal (SKA). Perlunya peningkatan akses pasar melalui lobby perdagangan luar negeri untuk penguatan promosi (branding), Market intelligence dan penguatan image bahwa South Sea Pearl (SSP) adalah mutiara asli Indonesia serta fasilitas pemasaran mutiara melalui penyelenggaraan lelang nasional.
Wednesday, 02 May 2007
Madu alam lebah liar (hutan) dari Bima (Sumbawa - NTB) Berkhasiat tinggi karena berasal dari nectar berbagai bunga dalam hutan Asli, langsung diambil dari petani di Bima Madu Bima dikenal sangat asli dan berkhasiat tinggi, dan menjadi oleh-oleh yang khas dari Bima. Keaslian Madu Bima kami jamin karena tujuan kami adalah melakukan promosi daerah Bima.

Pastikan Madu Bima anda peroleh dari kami dengan melakukan pemesanan langsung ke:







Ibu Nurul
Pondok Damai Blok C4 No. 25
Cileungsi - Bogor 16820
Telp/SMS: 0817-6575427 / 021-8232543

Khasiat madu tentu bukan rahasia lagi, tetapi sudah lazim diketahui, seperti:
∞Sumber energi dan vitalitas tubuh.
∞Mengembalikan tenaga dan stamina yang terkuras karena bekerja keras, berolah ∞raga, atau melakukan perjalanan jauh.
Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
∞Obat bagi berbagai penyakit, seperti sariawan, luka bakar, dll.
∞Menambah libido.
Untuk mengkonsumsi madu, bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:


√Langsung diminum, misalnya 2 sendok makan pada pagi dan sore/malam hari.
√Dicampur dengan air hangat, misalnya 2 sendok makan dicampur dengan segelas air lalu diminum pagi dan sore/malam hari.
√Sebagai pengganti gula, misalnya untuk minum teh.
√Dioleskan pada makanan. Dicampur dengan jamu.
√Sebagai bahan pembuatan kue dan masakan.
Berikut ini adalah beberapa referensi lain yang berkaitan dengan madu:


Ayat suci Al-Quran yang berkaitan dengan madu
Ξ Madu Hutan
Ξ Kandungan Madu Murni
Ξ Manfaat Madu
Ξ Madu Sebagai Obat
Ξ Resep Obat Dari Madu
Ξ Madu untuk kebugaran tubuh
Ξ Madu untuk facial
Ξ Kisah sesendok madu

 

Free Software

Offical Blog

Open Profile